Langsung ke konten utama

Kamis, 13 April 2017

aku berdiri sambil mendekapmu didalam pelukakanku seakan aku tak mau kamu pergi menginggalkanku, kita melihat pemandangan dari atas, kita merasa besar,  kita merasa kitalah pemilik dunia ini. Dan ketika itu aku percaya cinta otu memang ada. Dan lagi kau adalah tokoh utama dalam drama cintaku. Saat itu aku hanya berharap semoga tiada matahari terbenam dihari yang sempurna ini, aku selalu berharap hari ini bisa berjalan selamanya.  Aku selalu suka senyummu,  senyum yang menghangatkan hati yang dingin karena urusan dunia yang semakin membebani. Aku suka matamu yang seperti langit malam musim kemarau yang dipenuhi bintang gemerlap. Aku suka segala sesuatu dalam dirimu termasuk ketika kamu cemberut, diam,  ngambek. Aku jatuh cinta setiap kejadian itu terjadi. Aku selalu cinta padamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Sosial dan Perilaku Konsumen: Bagaimana Status Sosial Mempengaruhi Pilihan Produk?

Pendahuluan Memahami perilaku konsumen merupakan aspek penting dalam dunia bisnis dan pemasaran. Dengan memahami bagaimana dan mengapa konsumen membuat keputusan pembelian, perusahaan dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk menjangkau dan menarik target pasar mereka. Salah satu faktor yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumen adalah kelas sosial. Perilaku Konsumen: Perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan membuang produk, jasa, ide, atau pengalaman untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka ([Kotler & Keller, 2016]). Memahami perilaku konsumen membantu perusahaan memahami proses pengambilan keputusan konsumen, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan bagaimana mereka dapat memengaruhi keputusan tersebut. Pengambilan Keputusan Konsumen: Proses pengambilan keputusan konsumen adalah serangkaian langkah yang diambil konsumen untuk memilih produk atau jasa yang sesuai dengan ...

Selamat Ulang Tahun

Hari ini, aku 24. Bukan ucapan penuh tawa yang kudengar pertama kali saat membuka mata, bukan juga pelukan hangat yang biasa kamu kirim melalui suara, bahkan bukan doa panjang yang dulu sering kamu lafalkan sambil menyebut namaku di tengah malam—melainkan hening. Hening yang sunyi, tapi tidak tenang. Lengang, tapi tidak nyaman. Hening yang di dalamnya, suara hatiku memanggil namamu yang entah sekarang sibuk dengan siapa. Usia 24. Terdengar dewasa. Tapi hatiku justru makin sering bertanya hal-hal kekanak-kanakan: “Kenapa kamu pergi?” “Kenapa tidak bilang dulu?” “Kenapa secepat itu bahagia dengan yang lain?” Aku tahu, waktu tidak pernah diam. Tapi aku juga tidak mengira, kamu bisa berlari sejauh ini tanpa menoleh barang sekali. Usia 23: Tahun yang Penuh Pendar, Luka, dan Perjuangan Kalau aku harus merangkum usia 23 dalam satu kalimat, mungkin kalimatnya seperti ini: “Aku belajar menjadi manusia, seutuhnya, bahkan ketika aku sedang kehilangan sebagian besar diriku.” Aku menyelesaikan kuli...

Bab 1 : Perkenalan (draft)

    Hai nama gue Rijal, gue seorang siswa kelas 7 SMP, gue sekolah di SMP deket rumah gue di daerah pinggir jawa timur, tepatnya di kabupaten Tuban. sekolah gue baru aja mulai 2 minggu, ya saat ini adalah masa MOS atau masa orientasi siswa, masa dimana kita beradaptasi dengan lingkungan sekolah, padahal sih gak ngaruh-ngaruh banget, gue punya beberapa temen dari sekolah dasar yang ikut lanjut ke SMP, ya beberapa soalnya smp gue termasuk SMP Favorit walaupun sekecamatan, hehehe.   Senin pagi hari, kira-kira jam 06:30, aku penuh semangat mengayuh sepeda menuju sekolah, jarak antara rumah kesekolah bisa dibilang lumayan untuk orang yang jarang olahraga kaya gue. dijalan gue papasan sama tetangga rumah sekaligus kakak kelas gue, "ah beneran kan ada temen ngobrol" pikir gue. "Halo Mbak Ifah!!" nada gue keras mencoba menyapa, "eh, Jal. Semangat banget" balasnya "Yoi dong, hari pertama sekolah" "Wuihh, calon siswa teladan, hehe" "Aamiin...