Hari ini, aku 24. Bukan ucapan penuh tawa yang kudengar pertama kali saat membuka mata, bukan juga pelukan hangat yang biasa kamu kirim melalui suara, bahkan bukan doa panjang yang dulu sering kamu lafalkan sambil menyebut namaku di tengah malam—melainkan hening. Hening yang sunyi, tapi tidak tenang. Lengang, tapi tidak nyaman. Hening yang di dalamnya, suara hatiku memanggil namamu yang entah sekarang sibuk dengan siapa. Usia 24. Terdengar dewasa. Tapi hatiku justru makin sering bertanya hal-hal kekanak-kanakan: “Kenapa kamu pergi?” “Kenapa tidak bilang dulu?” “Kenapa secepat itu bahagia dengan yang lain?” Aku tahu, waktu tidak pernah diam. Tapi aku juga tidak mengira, kamu bisa berlari sejauh ini tanpa menoleh barang sekali. Usia 23: Tahun yang Penuh Pendar, Luka, dan Perjuangan Kalau aku harus merangkum usia 23 dalam satu kalimat, mungkin kalimatnya seperti ini: “Aku belajar menjadi manusia, seutuhnya, bahkan ketika aku sedang kehilangan sebagian besar diriku.” Aku menyelesaikan kuli...