Hari ini, aku 24.
Bukan ucapan penuh tawa yang kudengar pertama kali saat membuka mata, bukan juga pelukan hangat yang biasa kamu kirim melalui suara, bahkan bukan doa panjang yang dulu sering kamu lafalkan sambil menyebut namaku di tengah malam—melainkan hening. Hening yang sunyi, tapi tidak tenang. Lengang, tapi tidak nyaman. Hening yang di dalamnya, suara hatiku memanggil namamu yang entah sekarang sibuk dengan siapa.
Usia 24.
Terdengar dewasa. Tapi hatiku justru makin sering bertanya hal-hal kekanak-kanakan:
“Kenapa kamu pergi?”
“Kenapa tidak bilang dulu?”
“Kenapa secepat itu bahagia dengan yang lain?”
Aku tahu, waktu tidak pernah diam. Tapi aku juga tidak mengira, kamu bisa berlari sejauh ini tanpa menoleh barang sekali.
Usia 23: Tahun yang Penuh Pendar, Luka, dan Perjuangan
Kalau aku harus merangkum usia 23 dalam satu kalimat, mungkin kalimatnya seperti ini: “Aku belajar menjadi manusia, seutuhnya, bahkan ketika aku sedang kehilangan sebagian besar diriku.”
Aku menyelesaikan kuliah dengan segala dramanya. Bukan hanya soal skripsi dan dosen pembimbing yang terlalu perfeksionis—dia kaprodi, sekaligus orang yang menyulitkan tapi membuatku lebih tangguh dari sebelumnya. Aku mencoret, mengganti, menyusun ulang, dan kamu... kamu ada di sampingku. Memberiku semangat meski kita sama-sama letih. Kamu membaca judulku, menanyakan hasil bimbingan, menanti hasil acc, dan mendengar keluhanku tentang betapa anehnya sistem kampus yang membingungkan.
Lalu aku menapaki dunia baru. Di dunia digital yang mungkin orang anggap maya, aku mendapatkan $1000 pertamaku dari web3. Bukan angka yang terlalu besar untuk sebagian orang, tapi bagiku itu simbol: bahwa aku bisa. Aku mampu. Dan kamu tahu itu.
Aku ikut KKN, mengenal banyak teman, dan juga kesepian yang tak pernah benar-benar asing. Aku menginap di tengah alam, berdamai dengan nyamuk dan sinyal yang selalu bersembunyi. Aku belajar soal pertemanan, perbedaan, dan kejujuran. Ada malam-malam panjang di bawah langit terbuka, saat aku menyebut namamu dalam hati karena tak tahu lagi siapa yang bisa kudengar dan bisa mendengarku.
Aku pergi ke pantai Cemara—sendirian. Duduk di bawah gubuk kecil, membiarkan angin mencabut segala yang kupendam. Aku pernah di sana bersamamu. Tapi waktu berjalan aneh, ya? Hari ini aku hanya ditemani angin, bukan tanganmu.
Aku makan mie gacoan sampai asam lambungku naik. Tapi aku tetap tersenyum, tetap bilang aku baik-baik saja. Karena aku tak mau kamu khawatir. Karena aku tahu, kamu akan merasa bersalah kalau tahu aku sakit. Maka aku pura-pura sehat—walau hatiku tidak.
Aku pernah hancur. Sakit yang kubendung sejak kamu menjauh. Bahkan ketika kamu bilang ingin membakar tenda pelaminanku jika nanti bukan kamu yang berdiri di sisinya—aku percaya. Tapi nyatanya, kamu lebih dulu membangun singgahsana dengan seseorang yang bukan aku.
Menjadi 24 tanpamu
Hari ini ulang tahunku. Tapi tidak ada lilin, tidak ada pelukan, tidak ada pesan lucu yang kamu biasanya kirim malam-malam. Tidak ada kamu.
Dan ternyata, yang paling menyakitkan dari bertambah usia bukanlah kenyataan bahwa aku makin tua, tapi kenyataan bahwa kamu makin jauh.
Aku merenung. Hidup kadang bercanda terlalu kejam. Aku tertawa karena lelah, bukan karena lucu. Tertawa karena tubuhku lemas, bukan karena senang. Tertawa karena hidup menertawakanku lebih dulu.
Lucu ya? Kamu yang dulu membuatku rajin mandi, rajin sholat, rajin melipat baju karena kamu sebel lihat lemari acak-acakan, justru menjadi orang yang mengacak-acak hatiku. Rapi di luar, berantakan di dalam.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan sejauh ini. Tapi aku tahu satu hal: aku bertahan karena cinta. Karena dulu aku percaya bahwa kita bisa menata hidup bersama. Aku percaya padamu bukan karena kamu sempurna, tapi karena aku ingin belajar percaya. Sayangnya, kepercayaan itu seperti tanah yang kamu abaikan, hingga retak dan longsor sendiri.
Aku dan Harapan yang Makin Tipis
Hari ini, aku tidak berharap banyak. Aku tidak meminta kamu kembali. Aku tidak menunggu ucapan selamat ulang tahun darimu. Aku hanya ingin... sedikit tenang.
Tenang dalam menyadari bahwa aku masih hidup. Masih bernapas. Masih bisa menulis ini, walaupun dengan jemari yang bergetar dan dada yang sesak.
Tenang dalam tahu bahwa aku pernah dicintai, walaupun mungkin cuma setengah jalan.
Aku 24 sekarang.
Aku tidak tahu siapa yang akan menemani tahun-tahun ke depan.
Aku tidak tahu apakah aku masih bisa mencintai dengan cara yang sama.
Aku tidak tahu apakah luka ini akan sembuh.
Tapi aku tahu satu hal: aku sedang mencoba.
Mencoba rela.
Mencoba betah sendirian.
Mencoba untuk tidak berharap kamu kembali, bahkan jika dalam mimpi pun kamu muncul.
Jika kamu membaca ini, aku ingin kamu tahu:
Terima kasih sudah pernah tinggal.
Terima kasih sudah pernah membuatku tertawa lebih kencang dari tangisku.
Dan terima kasih... karena kini aku belajar mencintai diriku sendiri.
Selamat ulang tahun untukku.
Tanpa kue. Tanpa kamu.
Tapi dengan harapan kecil—agar suatu hari nanti, aku bisa bilang:
"Aku baik-baik saja… sungguh."

oh poor boy🥺
BalasHapusNyenyenye
Hapus