Langsung ke konten utama

Cerita Bali : Fatikha achmad

Hari ini, Sabtu, 8 Desember 2018, gue melotot ke kalender dan jeng jeng jeng! Sembilan hari lagi ultah Fatikha Achmad alias Aak, sohib gue dari SMA yang kebetulan juga mantan teman sebangku.

Gue udah rencana mau kasih kado spesial buat dia. Pas lagi iseng mantengin toko online, eh nemu diskon gede-gedean pas Harbolnas tanggal 12 Desember. Lumayan kan, bisa buat jajan! Akhirnya, gue putusin nunggu sampai hari itu buat beli barang incaran dengan harga miring.

Tanggal 12 pun tiba! Dengan semangat 45, gue buka toko online itu dan langsung nemu smartband keren dengan harga super duper miring. Tapi, masalahnya barangnya dikirim dari Tiongkok! Estimasi pengirimannya 6-7 hari. Sempat mikir, "Yah, nggak apa-apa deh, bisa dikasih pas mau liburan ke Bali nanti." Yaudah, gue klik tombol bayar dan mulai nungguin.

Tapi... hari demi hari berlalu, tanggal 20 Desember lewat, barangnya nggak nyampe-nyampe. Apa nyangkut di Tembok Besar Cina ya? Gue mulai dag dig dug, soalnya udah lewat estimasi pengiriman.

26 Desember 2018, jam 7 pagi, gue berangkat ke sekolah, titik kumpul buat liburan ke Bali. Rasanya agak nggak enak sih, mau liburan tapi belum kasih kado ke sohib sendiri. Sampai di sekolah, Aak nyapa duluan, "Woy To, masih kucel aja nih!"

"Sehat walafiat, Bro," jawab gue sambil cengengesan.

Kami ngobrol-ngobrol santai sebelum naik bis, tapi gue berusaha nggak bahas soal ultahnya. Jam 10, setelah amanat dari kepala sekolah dan ketua komite, bis pun berangkat menuju Pulau Dewata. Sepanjang jalan, kami asyik ngobrolin liburan dan rencana seru-seruan di Bali.

Tiba-tiba, WA gue bunyi. Pesan dari adek gue: "Mas, ada paket buat Mas."

"Buka aja," jawab gue penasaran.

"Isinya apaan?" tanya gue lagi.

"Kayak gelang gitu," balasnya.

Jantung gue langsung deg-degan. Jangan-jangan... smartband itu?! Gue suruh adek gue fotoin paketnya, dan ternyata bener! Smartband itu akhirnya sampai juga, tapi kok ya pas gue udah di jalan. Dasar kurir ngaret! Akhirnya, gue suruh adek gue simpen aja dulu sampai gue pulang.

Sampai di hotel, drama belum selesai. Kartu kamar kami ternyata bermasalah! Setelah nunggu hampir sejam, akhirnya kartu kamar didapat juga. Gue, Aak, dan teman-teman langsung masuk kamar buat naruh barang dan bersih-bersih.

Dua temen gue, Angga sama Drestha, tiba-tiba ngacir keluar kamar. "Mau ke mana, cuy?" tanya gue.

"Beli kolor di Indomaret, To. Lupa bawa ganti!" jawab Angga sambil nyengir kuda.

"Ya udah, sana. Gue jagain kamar," kata gue.

Tinggallah gue sama Aak di kamar. Aak yang baru mandi masih kepanasan, jadi dia buka baju dan tiduran telentang di kasur. Gue juga ikutan rebahan, tapi nggak sampai buka baju. Tiba-tiba, ada yang ngetuk pintu. Gue buka pintu, dan...

"ASTAGAAAA!" teriak Angga sambil melotot ke arah Aak yang telanjang dada.

"Santai, Ga! Ini nggak kayak yang lo pikirin!" kata gue sambil nahan tawa.

"Udah, nggak usah ngeles!" balas Angga dengan ekspresi curiga.

"Seriusan, Ga. Kita nggak ngapa-ngapain kok," timpal Aak yang kaget bangun dari kasur.

Akhirnya, Angga sama Drestha masuk kamar sambil nyengir-nyengir sendiri. Mereka cerita habis beli kolor seharga 50 ribu. "Mahal amat!" celetuk gue.

Hari-hari berikutnya di Bali penuh tawa dan kecurigaan. Kami saling ngerjain dan nuduh-nuduhan nggak jelas. Pokoknya, liburan yang super kocak!

30 Desember 2018, kami tiba di Tuban sekitar jam setengah 5 sore. Gue langsung pulang dan tidur selama 12 jam! Malamnya, gue chat Aak, nanyain dia ikut takziah ke rumah guru kami yang suaminya meninggal waktu kami di Bali. Ternyata dia ikut, tapi berangkat sendiri. Akhirnya, gue ajak bareng, dan dia setuju.

31 Desember 2018, jam 7 pagi, gue kelabakan bungkus kado. Gue buka kotak smartband, memastikan semuanya berfungsi. Aman! Tapi masalahnya, gue nggak punya kertas kado. Dengan ide super kreatif (atau mungkin nekat), gue ambil totebag bekas beli HP dan selipkan kartu KB di depan belakang kotak biar nggak kelihatan. Jadi deh, pembungkus kado super hemat!

Aak datang, dan langsung gue kasih kadonya. "Nih, Le, kado buatmu."

"Makasih ya, To," jawabnya sambil senyum.

"Sama-sama. Bukanya di rumah aja ya," pesan gue.

"Oke, To."

Kami berangkat ke rumah guru, takziah sebentar, lalu pulang. Malamnya, Aak update story WA tentang kadonya, tapi cuma bilang makasih doang. Gue iseng repost story-nya dengan caption, "Cieeee, dapet smartband plus kartu KB dua lembar!"

Banyak yang komen, tapi yang paling kocak balasan dari Aak: "Kartu KB-nya itu lhooo..."

"Itu ada artinya, Le. Kalo gituan jangan lupa waktu," goda gue.

"Anjrit, nggak sekalian pelindungnya, Mas?" balasnya.

"Ya nggak lah! Nanti kamu kebablasan," jawab gue sambil ngakak.

Kami terus chatingan sampai terbahak-bahak. Akhir tahun yang super kocak!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Sosial dan Perilaku Konsumen: Bagaimana Status Sosial Mempengaruhi Pilihan Produk?

Pendahuluan Memahami perilaku konsumen merupakan aspek penting dalam dunia bisnis dan pemasaran. Dengan memahami bagaimana dan mengapa konsumen membuat keputusan pembelian, perusahaan dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk menjangkau dan menarik target pasar mereka. Salah satu faktor yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumen adalah kelas sosial. Perilaku Konsumen: Perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan membuang produk, jasa, ide, atau pengalaman untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka ([Kotler & Keller, 2016]). Memahami perilaku konsumen membantu perusahaan memahami proses pengambilan keputusan konsumen, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan bagaimana mereka dapat memengaruhi keputusan tersebut. Pengambilan Keputusan Konsumen: Proses pengambilan keputusan konsumen adalah serangkaian langkah yang diambil konsumen untuk memilih produk atau jasa yang sesuai dengan ...

Selamat Ulang Tahun

Hari ini, aku 24. Bukan ucapan penuh tawa yang kudengar pertama kali saat membuka mata, bukan juga pelukan hangat yang biasa kamu kirim melalui suara, bahkan bukan doa panjang yang dulu sering kamu lafalkan sambil menyebut namaku di tengah malam—melainkan hening. Hening yang sunyi, tapi tidak tenang. Lengang, tapi tidak nyaman. Hening yang di dalamnya, suara hatiku memanggil namamu yang entah sekarang sibuk dengan siapa. Usia 24. Terdengar dewasa. Tapi hatiku justru makin sering bertanya hal-hal kekanak-kanakan: “Kenapa kamu pergi?” “Kenapa tidak bilang dulu?” “Kenapa secepat itu bahagia dengan yang lain?” Aku tahu, waktu tidak pernah diam. Tapi aku juga tidak mengira, kamu bisa berlari sejauh ini tanpa menoleh barang sekali. Usia 23: Tahun yang Penuh Pendar, Luka, dan Perjuangan Kalau aku harus merangkum usia 23 dalam satu kalimat, mungkin kalimatnya seperti ini: “Aku belajar menjadi manusia, seutuhnya, bahkan ketika aku sedang kehilangan sebagian besar diriku.” Aku menyelesaikan kuli...

Bab 1 : Perkenalan (draft)

    Hai nama gue Rijal, gue seorang siswa kelas 7 SMP, gue sekolah di SMP deket rumah gue di daerah pinggir jawa timur, tepatnya di kabupaten Tuban. sekolah gue baru aja mulai 2 minggu, ya saat ini adalah masa MOS atau masa orientasi siswa, masa dimana kita beradaptasi dengan lingkungan sekolah, padahal sih gak ngaruh-ngaruh banget, gue punya beberapa temen dari sekolah dasar yang ikut lanjut ke SMP, ya beberapa soalnya smp gue termasuk SMP Favorit walaupun sekecamatan, hehehe.   Senin pagi hari, kira-kira jam 06:30, aku penuh semangat mengayuh sepeda menuju sekolah, jarak antara rumah kesekolah bisa dibilang lumayan untuk orang yang jarang olahraga kaya gue. dijalan gue papasan sama tetangga rumah sekaligus kakak kelas gue, "ah beneran kan ada temen ngobrol" pikir gue. "Halo Mbak Ifah!!" nada gue keras mencoba menyapa, "eh, Jal. Semangat banget" balasnya "Yoi dong, hari pertama sekolah" "Wuihh, calon siswa teladan, hehe" "Aamiin...